Koran Digital Media Lampung

Gorong-Gorong Ambruk di Gedung Surian, Akses Jalan Putus Diterjang Hujan Deras
MEDIALAMPUNG.CO.ID – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Gedung Surian, Kabupaten Lampung Barat sejak sore hingga malam hari pada Rabu (1/4/2026), memicu kerusakan infrastruktur yang cukup serius. Sebuah gorong-gorong plat di ruas jalan kabupaten ambruk di kawasan Air Lempung, Pekon Gedungsurian, sekitar pukul 19.00 WIB, menyebabkan badan jalan tergerus hingga putus dan tidak dapat dilalui kendaraan.
Peristiwa ini bermula dari curah hujan tinggi yang berlangsung cukup lama, memicu peningkatan debit air pada aliran sungai kecil di bawah gorong-gorong. Tekanan air yang terus meningkat akhirnya tidak mampu ditahan oleh konstruksi yang ada, hingga bagian bawah gorong-gorong terkikis dan menyebabkan struktur tersebut runtuh. Dampaknya tidak hanya merusak saluran air, tetapi juga menyeret sebagian badan jalan hingga mengalami kerusakan signifikan.
Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi menyebutkan bahwa derasnya hujan sejak sore hari memang sudah menimbulkan kekhawatiran. Aliran air yang biasanya tenang berubah menjadi deras dan meluap, membawa material lumpur serta batu yang mempercepat proses penggerusan. Dalam situasi seperti ini, kerentanan infrastruktur lama semakin terlihat, terutama jika tidak didukung dengan sistem drainase yang memadai.
Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kecamatan Gedungsurian, Buchori, SP, membenarkan kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa faktor utama penyebab ambruknya gorong-gorong adalah intensitas hujan yang sangat tinggi dalam durasi cukup panjang. “Benar, tadi sekitar pukul 19.00 WIB terjadi ambruknya gorong-gorong plat di ruas jalan kabupaten, tepatnya di Air Lempung. Penyebab sementara diduga karena intensitas hujan yang sangat tinggi dari sore, sehingga debit air di kali kecil meluap cukup besar dan menggerus bagian bawah gorong-gorong sampai akhirnya ambruk,” ujarnya.
Kerusakan ini berdampak langsung pada mobilitas masyarakat. Jalur yang sebelumnya menjadi akses penghubung antarwilayah kini terputus total, sehingga aktivitas warga, distribusi barang, hingga akses menuju pusat layanan menjadi terganggu. Dalam kondisi darurat tersebut, masyarakat diminta untuk tidak memaksakan diri melintasi lokasi kejadian demi menghindari risiko kecelakaan.
Sebagai langkah antisipasi, pengguna jalan yang hendak melintas dari arah Airhitam menuju Kebuntebu maupun sebaliknya diarahkan untuk menggunakan jalur alternatif melalui Tembiangan Hill. Imbauan ini disampaikan guna menjaga keselamatan pengendara sekaligus mengurangi potensi kemacetan di sekitar lokasi terdampak.
Buchori juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan di tengah cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi. Ia menekankan agar masyarakat mengikuti arahan petugas di lapangan serta selalu memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. “Untuk sementara, kami mengimbau masyarakat yang hendak menuju Airhitam atau dari Airhitam ke arah Kebuntebu gunakan jalur alternatif melalui Tembiangan Hill,” tambahnya.
Peristiwa ini menjadi cermin bahwa infrastruktur di daerah rawan perlu mendapatkan perhatian serius, terutama dalam menghadapi perubahan cuaca yang kian ekstrem. Ketahanan konstruksi dan sistem pengairan harus dirancang lebih adaptif agar mampu menahan lonjakan debit air yang tak terduga. Di sisi lain, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah menjadi kunci dalam meminimalisasi dampak bencana serupa di masa mendatang.
Lebih dari sekadar insiden teknis, ambruknya gorong-gorong ini mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya soal fungsi, tetapi juga soal ketahanan terhadap dinamika alam. Ketika hujan turun dengan intensitas di luar kebiasaan, maka yang diuji bukan hanya kekuatan material, melainkan juga kesiapan sistem secara menyeluruh.

